Senin, 06 Februari 2012

ilmu perbandingan agama di dunia barat dan islam

Di dunia barat

Sejak timbulnya agama-agama didunia Greco-roman,maka ahli-ahli pikir telah telah menilai agama mereka masing masing dalam hubunganya dengan agama-agama lain. Banyaklah sudah teori dikemukakan orang untuk menghubungkan satu agama dengan yang lainnya, teori tentang kodrat agama, hokum-hukum yang mengenai pertumbuhan agama dan interpretasi tentang asl-usul agama. Dr.Lehman dari universitas lund memberikan ringkasan yang sangat baik tentang sejarah pertumbuhan ilmu agama ini.
Lama sebelum Yesus lahir,tokoh-tokoh agama seperti Herodotus,berosos,Cicero, sallustius menulis dengan kritis tentang agama-agama di dunia timur.penulis-penulis Kristen apologist dalam abad pertama,seperti Aristides memang memberikan interpretasi tentang hubungan antara agama kafir, yahudi dan kepercayaan Kristen. Tatapi,sekalipun orang mengakui tentang benarnya apa yang uraikan itu, namun pada dasarnya mereka itu adalah propagandis-propagandis  dan pembela-pembela agama. Memang sebagaimana kita mengetahui, penyiaran agama Kristen mengharuskan pendukung-pendukungnya untuk menentukan sikap merka terhadap agama-agama bukan Kristen.
Clement dari Alexandria menunjukkan sedikit pengetahuan tentang agama budha. Apabila orang melihat kepada penulis-penulis Kristen, maka nama yang paling pertama yang harus dicatat ialah Agustin(354-403). Dalam bukunya the City of God,ia mengatakan bahwa agama kafir adalah merupakan perbuatan setan. Di antara penulis-penulis lama barangkali hanya Saxo(1220) dari skandinavia dan snorri(1241) dari Iceland-lah yang perlu dicatat disini tentang tulisan-tulisanya soal agama-agama di eropa utara.[1]Roger bacon (1214-1294) menulis sebuah buku besar tentang agama-agama kafir dan Islam.
Perlu dicatat disini bahwa kira-kira dalam waktu yang sama dengan itu, Mangy khan dari monggolia dan juga sultan akbar(1542-1605) dari india mengadakan kongres-kongres agama yang dihadiri oleh orang-orang Yahudi,Kristen,Islam,Hindu,Budha dan sebagainya. Barangkali kongres-kongres itu merupakan pembuka jalan bagi parlemen agama-agama yang diadakan diChicago. Dalam waktu reformasi dan Renaissance,Erasmus (1469-1536) menulis tentang elemen-elemen agama-agama kafir yang terdapat pada peribadatan agama Roma Katolik dan ajaran-ajaranya.
Sejalan dengan semangat rasionalisme,maka mulailah teori evolusi tentang asal-usul agama,dengan menolak adanya revelation(wahyu). Buku David Hume, natural history of religion (17570 dan buku voltair ,essay(1780) adalah kedua contoh yang sangat menonjol. Rasionalisme jerman diawali oleh O.K muller dalam bukunya Prolegomena Zu Einer Wissenchaftliesd Mythology(1825) dan Creuzer pada permulaan abad ke Sembilan belas,mereka diikuti oleh schelling dan hegel.[2]   
Perkembangan ilmu perbandingan agama dimulai oleh Max Muller kurang lebih satu abad yang lalu. Ia  mengadakan penelitian tentang agama melalui pendekatan antropologis (pendekatan kebudayaan) artinya agama dipandang sebagai bagian dari kebudayaan,baik wujud,ide,atau gagasan yang dianggap sebagai system norma maupun dan nilai yang dimilki oleh anggota masyarakat yang mengikat seluruh anggota masyarakat.sistem agama budaya itu memberikan pola kepada seluruh tingkah laku anggota masyarakat dan melahirkan  hasil karya keagamaan yang berupa fisik,mulai bangunan tempat ibadah seperti gereja,mesjid, pura, kelenteng,sampai alat upacara yang sangat sederhana,seperti hioh,tasbih atau kancing baju.
 Ia juga meneliti bahasa yang digunakan oleh pemeluk agama,menurut hasil penelitiannya,asala agama adalah mitos-mitos tentang fenomena alam,sedangkan munculnya agama adalah kesalahan mengartikan lafal bahasa yang dipakai untuk mengidentifikasi fenomena alam.[3] Pada tahun 1956 terbit buku pertamanya  comparative mytologi dan pada tahun 1870 menyusul diterbitkan introduction to the science of religion. Istilah Science of Religion (ilmu agama) atau releigionswissenchaft dimaksudkan untuk menunjukkan pemisahan ilmu baru tersebut dari filsafat agama dan terutama dari teologi.para ahli sejarah agama dengan senang  hati memepertaruhkan reputasi mereka sebagai bapak penemuan metode-metode penelitian baru yang menunjukkan hasil yang lebih baik. 
Setiap orang berusaha mancari kesejajaran-kesejajaran. Ada dorongan kuat untuk mulai memanfaatkan sumber-sumber yang tersedia seperti teks-teks suci yang dalam beberapa hal menurut berbagai macam tradisi keagamaan suku,bangsa dan masyarakat yang berbeda-beda. Kuliah-kuliah Gifford yang menarik yang disampaikan oleh seorang sarjana belanda Tiele antara tahun 1896-1898, dan telah diterbitkan dengan judul Elements Of The Science Of Religion, memperlihatkan masa transisi perkembangan ilmu perbandingan agama dari babak pertama menuju babak kedua. 
Unsur yang spekulatif, meskipun kadang-kadang tunduk pada perhatian yang bersifat historis ,masih tetap kuat dalam perkuliahan Tiele. Unsur tersebut terlihat dari uraiannya mengenai rangkaian evolusi, yang diketemukanya bukan saja dalam sejarah agama tetapi juga dalam cerita ,sosiologi dan psikologi,tiga bidang yang membantu disiplin ilmu kita.[4] Babak yang kedua lebih didominir oleh masalah-masalah bahasa,sejarah dan bercorak positivistis. Di sini deskripsi mengambil alih evaluasi. Norma-norma dan nilai-nilai harus dijelaskan secara historis,psikologis dan sosiologis.
Telah banyak usaha penting yang dilakukan guna menyelidiki agama-agama, dahulu dan sekarang.spesialisasi dikembangkan sedemikian rupa dan obyektivitas merupakan tuntutan yang tertinggi. Perhatian utama yang terlihat dalam mempelajari asal-usul. Apabila kesalahan pada babak pertama adalah karena mengabaikan hal-hal yang detail, maka kekeliruan pada babak  yang kedua justru bersumber pada penghargaan yang berlebih-lebihan terhadap detail. Para sarjana periode awal sangat mementingkan penelitian terhadap kesejajaran kesejajaran disertai  dengan kegilaan penemuan-penemuan baru,maka para sarjana pada babak kedua cenderung pertama mengabaikan perbedaan-perbedaan karena menyukai kesamaaan-kesamaan.(fajar andika). 
Ketika perang dunia pertama meletus terjadi beberapa perubahan penting. Historirisme yang menguasai abad itu,secara berangsur mulai surut meskipun penelitian-penelitian bahasa, sejarah,psikologis masih berlanjut dan metode posotivistis tetap bertahan di beberapa tempat. Ernst troeltsch, yang kebanyakan orang dianggap sebagai pembimbing dan tokoh aliran sejarah agama,secara jelas menyinggung masalah tersebut dalam karyanya Der Historismus.
Arus sejarah yang melarutkan setiap fenomena tidak dapat memberikan norma-norma bagi kepercayaan dan perbuatan,padahal kehidupan tanpa norma-norma seperti itu dirasakan bukan sebagai kehidupan yang layak. Dengan terjadinya pergantian abad,maka filsafat dan teologi yang semula runtuh menjadi epistimologi teknis atau penelitian sejarah,mulai bangkit kembali. Dengan demikian babak ketiga dalam ilmu ini mulai menapak batas baru dalam filsafat. Permulaan masa baru tersebut diwarnai oleh tiga hal: pertama,keinginan untuk mengatasi perselisihan yang timbul akibat spesialisasi dan pembidangan yangterlalu berlebihan,melalui suatu pandangan yang terlalau berlebihan,kedua,keinginan penetrasi yang lebih jauh kedalaman hakekat keagamaan dan yang ketiga pembahasan masalah epistimologi yang wujud akhirnyabersifat metafisis.[5]
 
B.     Di dunia Islam
Tidak dapat di pungkiri di antara buku-buku tentang sejarah agama atau kitab perbandingan agama itu ialah kitab-kitab yang dikarang oleh penulis-penulis muslim, Ali ibn sahal rabban al tabari menulis kitabnya yang berjudul kitab al din al dawlah. Dalam kitab itu tidaklah terdapat serangan-serangan yang tajam terhadap agama-agama lain termasuk agama Kristen,malahan sebaliknya kitab tersebut berisi tentang  keterangan yang positif tentang agama Kristen sebagai agama yang harus dihormati. 
Apabila bukti-bukti yang dimiliki umat islam untuk beriman kepada nabi Muhammad,ia menyatakan  adalh sama bukti yang dimiliki oleh orang Kristen untuk beriman kepada nabi-nabi mereka,maka mereka tidak mempunyai alas an dihadapan Allah dan kesadran mereka sendiri untuk tidak beriman kepada nabi kita,sekaliggus mereka beriman kepada nabi-nabi mereka sendiri.ia menerangkan tentang mu’jizat nabi Muhammad dan mu’jizat yesus,dan menyatakan bahwa karena catatan tentang mu’jizat-mu’jizat nabi Muhammad itu lebih dapat dipercaya maka seharusnya orang Kristen itu menerima kenabian nabi Muhammad.(wiwin nur soleha)
Di dalam kitab perjanjian lama juga diterangkan tentang fasal-fasal yang terdapat kitab perjanjian lama yang berisi tentang kedatngan nabi Muhammad.[6] Selanjutnya jelas sekali bahwa ia tidak bersikap berat sebelah dan menyatakan bahwa apabila seorang cina atau india datang ke negeri ini mencari kebenaran,dan mereka mencari keterangan ringkas tentang berbagai agama dan kepercayaan,maka orang yang dating itu pasti akan memilih islam sebagai agamanya.
Dalam membahas ilmu perbandingan agam ,kita tidak boleh melupakan nama seorang penulis muslim terkemuka Muhammad abd karim al Syahrastani ,karanganya yang terkenal Al-milal wal nilal,ia membagi agama sebagai berikut:Islam,ahli kitab(orang-orang yang mempunyai kitab suci) ialah orang –orang yahudi dan nasrani,orang-orang yang berfikir bebas dan ahli-ahli filsafat. Harus diakui bahwa dalam perkembangan selanjutnya maka perkembangan ilmu perbandingan agama dalam dunia Islamn adalah tidak luput dari apologi. Hal ini dikarenakan hebatnya seranga dari barat dalam bidang agama dan kepercayaan orang-orang Islam.di antara kitab-kitab yang sedemikian itu sifatnya aialah kitab yang membahas tentang agama-agama lain yang dasarnya apologi(berdasar kepercayaan yang dimiliki).
Di antara karangan-karangan dalam bidang perbandingan agama yang bersifat apologi ialah kitab karangan rahmatullah al hindi,azhar,al-haq. Kitab ini diterbitkan untuk pertama kalinya di india sebagai jawaban langsung terhadap kitab al miizan al-haq yang ditulis oleh C.G.pfander,tidak boleh dilupakan juga disini tokoh Muhammad Abduh dalam karangannya yang sifatnya apologis yang dimuat dalam kitab al-Manar(1901).selain daripada itu masih banyak kitab yang bersifat apologis yang ditulis oleh penulis-enulis Islam.[7]
  Sebagaimana diterangkan diatas,pertumbuhan ilmu perbandingan agama dalam Islam adalah kurang menguntungkan kalau dibandingkan dengan pertumbuhan perbandingan agama di barat. Kitab-kitab yang orisinil yang berisi kepercayaan-kepercayaan dan agama-agama bukan Islam yang ditulis berdasarkan penyelidikan dan penelitian dari tangan pertama dalam abad-abad modern ini tidak ada,Kalaupun ada adalah sedikit sekali.dengan demikian maka dapat ditarik kesimpulan bahwa ilmu perbandingan agama dalam dunia Islam belum berkembang,system dan metodenya masih perlu dirintis.(wawan miharjo)



DAFTAR PUSTAKA

Joachim Wach.1984.Ilmu perbandingan agama.Jakarta:Rajawali.
Dr. H.Dadang Kahmad. Metode penelitian agama. Bandung:Pustaka setia.
H.A.Mukti Ali.1990.ilmu perbandingan agama.Jakarta:Tinta Mas.




[1] Mukti ali,ilmu perbandingan agama,jakarta:PT.Tinta mas Indonesia,1990,hal 10
[2] Ibid hal 11
[3] Dadang rahmad,metodepenelitian agama,bandung:pustaka setia,hal 53.
[4] Joachim wach,ilmu perbandingan agama,Jakarta:rajawali:1984.hal 4.
[5] Ibid hal 7.
[6] Mukti ali op.cit hal 14
[7] Ibid hal.17

1 komentar:

Sebenarnya umat kristen tdk peduli dgn fitnahan al quraqn thd iman Kristen dan Yahudi tetapi umat islam terlalu agersif krn menganggap agama islam yg paling benar.

Poskan Komentar