barang siapa yang telah mengetahui Tuhannya, maka ia telah mengetahui jati dirinya

"experience is the Best Teacher"

sebaik-baik pembimbing adalah dari yang maha mengetahui

"experience is the Best Teacher"

ibadah merupakan sarana pendekatan dan bukti ketaatan

"experience is the Best Teacher"

ilmu cahaya di dunia dan akhirat

"experience is the Best Teacher"

tujuan akhir atau sesaat???

"experience is the Best Teacher"

Senin, 16 Mei 2011

PERKEMBANGAN POLITIK ISLAM DI INDONESIA


1.      Islam Menyatu dengan Pranata Politik Local
            Islam datang ke Indonesia terbukti dilakukan dengan secara damai.[1] Berbeda dengan penyebaran islam yang dilakukan di Timur Tengah yang dalam beberapa kasus disertai dengan pendudukan wilayah oleh militer Muslim. Islam masuk ke Indonesia setelah kehancuran Baghdad sehingga menyebabkan pedagang muslim mengalihkan aktivitas perdagangan ke araha Asia Selatan, Asia Timur, dan Asia Tenggara.[2]
Bersamaan dengan para pedagang dating pula dai-dai dan musafir-musafir sufi. Dari perdagangan tersebut terjadilah hubungan timbale balik, sehingga terbentuklah perkampungan masyarakat Muslim. Pertumbuhan perkampungan ini malin meluas sehingga perkampungan itu tidak hanya bersifat ekonomis, tetapi membentuk struktur pemerintahan dengan mengangkat Meurah Silu, kepala suku Gampung Samudra menjadi Sultan Malik as-Sholeh.
Dari paparan diatas dapat dijelaskan bahwa tersebarnyaIslam ke Indonesia adalah melalui : perdagangan, Dakwah, Perkawinan, Pendidikan, tasawuf dan tarekat, dan kesenian.[3]
2.      Ulama Sebagai Legitimator Politik Kerajaan
Pengaruh ini dapat dilihat dalam system pemerintahan kerajaan-kerajaan Islam Indonesia seperti konsep khilafah atau kesultanan yang sering kita jumpai dalam kerajaan-kerajaan seperti Aceh, Mataram, Demak, Banten, dan Tidore.[4]
3.      Pemberontakan Rakyat Terhadap Belanda
a.       Perang Diponegoro
Ulama atas nama Islam menggalang kekuatan  untuk melawan penjajah. Terjadilah perang jawa (1825-1830 M) dipelopori pangeran Diponegoro didampingi Kiai Mojo (1873-1905 M). walaupun perang besar ini berakhir dengan kekalahan, tetapi peran politik ulama telah menjadi pelajaran politik umat Islam Indonesia. Penggalangan atas nama Islam telah memupuk cinta tanah air dan anti kolonial. Nilai “perang sabil” yang dicanangkan oleh para ulama selalu menjadi landasan yang kuat dalam ketahanan umat untuk mengusir dan melawan kolonial.

b.      Kalangan Petani (1888 M)
Ketika penjajahan Belanda semakin meluas, maka muncullah gerakan protes petani dipimpin oleh ulama lokaluntuk melawan Belanda dan pembantu-pembantu raja-raja tradisional yang dianggap kafir. Para petani dan ulama lokal menganggap gerakan itu sebagai perang suci, perang terhadap kafir. Diantara gerakan protes petani lokal yang dianggap terbesar adalah yang terjadi di Cilegon. Dengan faktor: situasi kolonial yang menghipit kehidupan rakyat, kondisi yang bertentangan dengan kaidah-kaidah agama Islam, pelarangan Umat Islam melakukan Ibadah, tindakan yang semena-mena, penggusuran tanah milik rakyat yang suburuntuk tanaman tebu, kerja paksa, pajak yang memeras, dan lain-lain. [5]

1.      Pergeseran Politik Keagamaan dari Istana kepada rakyat atau Ulama
Dengan keadaan demikian (rakyat resah dan menderita), mendorong para kiai, ulama, atau haji untuk menghimpun rakyat tampil sebagai pemimpin dengan cara menghubungi beberapa pesantren. Melalui khutbah-khutbahnya mereka membantu rakyat membebaskan diri  dari tindakan pemerasan Bekanda dengan melakukan perang jihad. Mereka berhasil mendapatkan dukungan luas. Namun, karena gerakan protes itu hanya bersifat lokal, kurang terkoordinasi dengan matang, maka gerakan itu dengan cepat dapat ditumpas oleh Belanda. Gerakan seperti ini belum dapat mengubah karena hanya berupa letupan seketika.[6]

2.      Perbandingan Politik Islam Era Orde Lama, Orde Baru, Orde Reformasi
a.       Era Orde Lama
Sejak masa Demokrasi Terpimpin, Indonesia mengalami masa yang disebut Orde Lama (10 oktober 1956). Majelis konstituante hasil pemilu 1955 mulai bersidang di Bandung 10 November 1956 untuk merumuskan UUD. 1949, UUD 1945 telah diganti menjadi RIS, ketika Indonesia kembali ke Republik persatuan 1950, UUD masih bersifat sementara. Oleh karena itu, Majelis Konstituante bertugas merumuskan UUD yang sah dan tetap.
Perdebatan muncul pada BPUPKI yang akan merumuskan rancangan UUD sebagai persiapan menghadapi Indonesia merdeka. Dalam majelis konstituante1955, menyalurkan aspirasi secara demokratis untuk membentuk Negara. Apakah Negara ini republik Islam Indonesia atau cukup Republik Indonesia saja? Apakah lambang dan benderanya dalam negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam? Apakah hukum Islam  yang didasarkan Al-Quran dan Hadis dapat digunakan dalam kehidupan baik perorangan, keluarga, masyarat, maupun Negara? Tuntutan tersebut dengan sebab:[7]
Ø  Islam adalah sebuah konsep yang utuh yang tidak membedakan negara dan masyarakat
Ø  Islam telah tampil dalam sejarah Indonesia dalam proses terbenntuknya negara dan bangsa sejak zaman sultan beserta ulama-ulama melawan kolonial.
Ø  Kenyataan bahwa secara kuantitatif mayoritas rakyat Indonesia adalah Islam.
Pada tanggal 5 juli 1958 presiden Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden RI/panglima Tertinggi Angkatan Perang. Isi dekrit :[8]
Ø  Pembubaran Majelis Konstituante
Ø  Kembali ke UUD 1945 dan mencabut UUD sementara
Ø  Membentuk Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara, yang terdiri dari anggota DPR ditambah utusan daerah dan golongan serta pembentukan Dewan Pertimbangan Agung Sementara.
Pada masa Demokrasi terpimpin, Masyumi dan PSII dibubarkan. Akan tetapi masih ada wakil umat Islam di Parlemen, yaitu NU. Pertentangan terjadi dimana-mana. Secara umum, pada tahun 1960-an terdapat golongan NU, PNI, dan PKI. Ketiganya adalah pendukung Nasakom yang dimaksudkan sebagai ide pemersatu, tapi pada kenyataanya malah menjadi unsur pemecah belah. Tahun 1964, PKI melancarkan berbagai aksi: merebut tanah perkebunan, tanah wakaf, melakukan penggerebegan dan penganiayaan. Tahun 1965, terjadi bentrokan antara PKI dan Islam.
Peristiwa ini telah mengembangkan kerjasama yang baik antara kelompok tentara dan kelompok / organisasi Islam melawan PKI. Tahun 1966, aksi pemuda, mahasiswa, pelajar dan ABRI berhasil menurunkan Soekarno dan membubarkan PKI serta melarang semua ajaran komunis di Indonesia.[9]
b.      Era Orde Baru
Sejak terjadinya G30S PKI,kedudukan Soekarno semakin kritis. Aksi pemuda yang disebut sebagai “angkatan” seperti yang tergabung dalam KAMI dan KAPPI, dimana HMI mempunyai peranan sangat penting,turun ke jalan menuntut: (1) turunkan harga, (2) bubarkan PKI, (3) anti penyelewengan. Orde Baru menunjuk kepada tatanan dengan tujuan kehidupan sosial, politik, ekonomi, kultural yang dijiwai oleh moral Pancasila, khususnya sila pertama. Dengan demikian Soeharto meraih kekuasaan berdasarkan sebuah koalisi para perwira militer, organisasi-organisasi Muslim dengan golongan Kristen.[10]
            Orde Baru mengalami banyak perubahan. Restrukturisasi politik, dilakukan tidak hanya dalam penyederhanaan partai politik tapi juga dalam bentuk penyadaran pentingnya persatuan.
            Menjelang diberlakukannya asas tunggal, semula umat islam banyak yang cemas karena UU no.8/1985 mewajibkan semua ormas mencantumkan asas tunggal yang berarti dilarang mencantumkan asas lain sebagai ciri khas atau identitas sendiri. Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan dari berbagai golongan, umat Islam dengan segala keberaniannya menerima pancasila sebagai asas tunggal sambil berusaha untuuk mengisinya dengan nilai-nilai Islam. Setelahh asas tunggal diterima, umat Islam mulai berjuang untuk berbagai masalah, mulai dari masalah pernikahan, hubungan umat dengan pemerintah, hingga masalah ekonomi.[11]
            Namun Soeharto adalah seorang yang dikatakan melanjutkan politik Snouck Hurgronje yang berpendapat bahwa umat Islam harus diberikan fasilitas. Dengan demikian umat tersebut berkembang dan asyik dalam bidang sosial keagamaan saja, tapi dalam bidang politik tidak diberi kesempatan.
Dengan demikian dapat dilihat bahwa kebijakan Soekarno dan Soeharto terhadap pergerakan Muslim ternyata sama. Yaitu membedakan aspek keagamaan dan aspek politik.[12]
            Sampai tanggal 19 Mei 1998 tidak ada tanda-tanda Soeharto akan lengser. Yang terlihat justru Soeharto akan menggunakan militer untuk menghabisi gerakan pro demokrasi. Namun karena desakan dari banyak pihak terutama para ulama dan tokoh nasional, agar membatalkan rencana demi menghindari jatuhnya banyak korban, Amien setuju mengurungkan niatnya untuk memimpin apel akbar Tugu Monas 20 Mei 1998, yang diikuti ratusan ribu rakyat. Tak dapat dipungkiri rencana apel akbar di Monas itu adalah salah satu faktor utama yang membuat soeharto akhirnya memilih mundur, pada tanggal 21 Mei 1998. Dan melantik Habibie, yang merupakan wakil, menjadi Presiden RI.[13]
c.       Era Orde Reformasi
Runtuhnya pemerintahan Orde Baru yang otoriter dan korup membawa harapan munculnya pemerintahan yang demokratis. Hal itu tercermin dari kebebasan mendirikan partai politik. Termasuk didalamnya partai-partai Islam. Hal ini memengaruhi ulama untuk kembali aktif di dunia politik dengan terjun langsung untuk memenangkan partai tertentu sesuai dengan posisinya.[14]
Pemilu 1999 telah membawa ulama ikut berperan kembali secara mandiri di dalam pemerintahan, sehingga beberapa ulama telah duduk di legislatif. Sampai pada pemilu 2004, serta pemilihan langsung presiden/wakil presiden 5 juli 2004, peran ulama dalam politik terus berlanjut.[15]




[1]Sunanto, Musyrifah. “sejarah peradaban islam indonesia”, Jakarta:PT Raja Grafindo persada, hlm.7
[2] Ibid,. Hlm 8
[3] Ibid,. Hlm 12
[4] www.serbasejarah.wordpress.com
[5] Sunanto. Musyrifah, Op. Cit. Hlm. 30
[6] Ibid.,hlm.32
[7] Ibid., hlm.69
[8] Ibid., hlm.70
[9] Ibid., hlm.75
[10] Ibid., hlm.76
[11] Ibid., hlm.81
[12] Ibid., hlm.84
[13] Ibid., hlm.89
[14] Ibid., hlm.90
[15] Ibid., hlm.91

Perkembangan Islam pada Masa Kekusaan Mamluk di Mesir


          Mamluk berasal dari bahasa Arab yang berarti budak. Dinasti ini memang didirikan oleh budak. Mereka pada mulanya adalah orang-orang yang ditawan oleh penguasa dinasti Ayyubiyah sebagai budak, kemudian di didik dan dijadikan tentaranya. Mereka  ditempatkan pada klompok tersendiri yang terpisah oleh masyarakat. Oleh penguasa Ayyubiyah yang terakhir, Al-Malik Al-Salih, mereka dijadikan pengawal untuk menjamin kelangsungan kekuasaanya. Pada masa kekusaan ini, mereka mendapat hak-hak istimewah, baik dalam karir ketentaraan maupun dalam imbalan material. Pada umumnya mereka berasal daerah Kaukasus dan laut Kaspia. Di mesir, merka ditempatkan di pulau Raudhoh di sungai nil untuk menjalani latihan meliter dan keagamaan. Karena itulah mereka di kenal dengan julukan Mamluk Bahri. Saingan mereka dalam ketentaraan adalah tentara yang berasal dari suku kurdi. Ketka Al-malik Al solih meninggal (1249 M), anaknya Turansyah naik tahta, sebagai sultan. Golongan Mamalik merasa terancam karena Turansyah lebih dekat ketentara asal Kurdi dari pada mereka. Pada tahun 1250 M, Mamalik dibawah pimpinan  Aybak dan Baybars berhasil membunuh Turansyah. Istrinya Al-Malik Al-Salih, Syajarah Al-Durr, seseorang yang juga berasal dari kalanagan Mamalik verusaha mengambil kendali pemerintahan, sesuai dengan kesepakatan golongan Mamalik. Kepemimpinan Syajaruh Al-Durr berlangsung sekitar tiga bulan. Ia kemudian kawin  dengan seorang tokoh Mamalik bernama Aybak dan menyerahkan tampuk kepemimpinanya kepadanya sambil berharap dapat terus berkuasa dibelakang tabir.akan tetapi segera setelah itu Aybak membunuh  Syajarah Al- Durr mengambil sepenuhnya kendali pemerintahan. Pada mulanya, Aybak mengangkat seseorang keturunan Ayyubiyah bernama Musa sebagai sulatan “syar’i” disamping diring sebagai penguasa  yang sebenarnya. Namun, Musa akhirnya di bunuh oleh Aybak. Ini merupakan akhir dari dinasti Ayyubiyah di Mesir dan awal dari kekuasaan dinasti Mamalik.[1]
Aybak berkuasa selama tujuh tahun (1250-1257 M). setelah meninggal ia digantikan oleh anaknya, Ali yang masih berusia muda. Ali kemudia mengundurkan diri pada tahun 1259 M dan digantikan oleh wakilnya, Qutuz. Setelah Qutuz naik tahta, Baybars yang mengasingkan ke Syiria, karena tidak senang dengan kepemimpinan Aybak kembali kemesir. Di awal tahun 1260 M, Mesir terancam serangan bangsa mongol yang sudah berhasil menduduki hampir suluh dunia islam. Kedua tentara bertemu di Ayn Jalut dan pada tanggal 13 September 1260 M, tentara Mamalik dibawah pimpinan Qutuz dan Baybars berhasil menghancurkan pasukan mongol tersebut, kemenangan atas tentara mongol ini membuat kekusaan Mamalik di Mesir menjadi tumpuan harapan ummat islam disekitarnya. Penguasa-panguasa di Syiria segera menyatakan setia kepada panguasa Mamalik.[2]
Tidak lama setelah itu, Qutuz meninggal dunia. Baybars, seorang pemimpin militer yang tangguh dan cerdas, diangkat oleh pasukanya menajdi sulatan (1260 – 1277 M) . Ia adalah sultan terbesar dan termasyhur di antara 47 sultan Mamalik. Ia pula yang dipandang sebagai pembangun hakiki dinasti Mamalik. Sultan-sulatn inilah yang meninggalkan jejek besar dalam sejara islam di Mesir.[3]
Mesir terhindar dari kehancuran, setelah berhasil mengalahkan serangan bangsa Mongol (1260 M), maka kesinambungan pradaban pada masa klasik tetap terlihat sehingga prestasi yang pernah dicapai masa klasik tetap bertahan di Mesir walaupun kemajuan yang di capai Mesir masih dibawah prestasi yang pernah dicapai ummat islam masa klasik. Hal ini mungkin karena metode berfikir tradisional sudah tertanam sangat kuat sejak berkembangnya ailran teologi Asy’ariyah; filsafat dapat kecaman sejak pemikiran Al Ghazali mewarnai pemikiran mayoritas ummat islam. Juga karena Baghdad dengan fasilitas-fasilitas ilmiahnya yang banyak memberi inspirasi kepusat-pusat pradaban islam, hancur oleh serbuan Hulago. [4]
Sultan Baybers mengadakan berbagai pembangunan di Mesir, Palestina, dan Syria, yang sebelumnya berhasil mengepung kota Okka hingga pimpinan tentara Salib Perancis, Edward of England, pada tahun 1272 M meminta gencatan senjata 10 tahun dengan kesediaan membayar upeti tahunan ke Mesir. Ada dua tradisi yang tercipta pada masa Baybers. Pertama, mempersiapkan kiswah untuk baitullah di Makkah al-Mukarromah dan diantar dengan upacara setiap musim haji. Kedua, menempatkan empat imam pada keempat penjuru Baitullah.[5]
Sultan Qolawun melanjutkan kepemimpinan Sultan Baybers, mendirikan bangunan yang masih dikagumi hingga sekarang baik bangunan keagamaan maupun bangunan sosial. Ia pun mampu menghancurkan serangan bangsa Mongol yang di pimpin oleh Abaga Khan (anak Hulago), dan juga mengakhiri kekuasaan Salibiyah yang sudah berjalan selama dua abad. Satu-satunya kota yang mampu mempertahankan diri adalah Bandar Okka. Ditangan anaknya, Sultan Asyrof Shilahuddin Khalil (1290-1923), benteng Kota Okka berhasil dikuasai. Sejak itullah kekuasaan Barat berakhir berabad-abad lamanya, hingga Perang Dunia I (1914-1918 M) Mesir dan Palestina jatuh ketangan kekuasaan Inggris dan Lebanon jatuh ketangan kekuasaan Perancis. Keturunan terakhir mamalik Bahriyah adalah Haji as-Shalih Zaenuddin bin Asyraf Sya’ban berusia enam tahun. Maka diangkatlah sebagai pemangku raja al-Malik az-Zahir saefuddin Barquq, semenjak itu mulailah dinasti mamalik Jarakesah (Mamluk Barji).[6]
Barquq Sultan kuat. Ia berhasil mengalahkan Timur Lenk, keturunan Hulago. Ia bercita-cita menjadi raja terbesar maka segera mengalahkan raja-raja lain keturunan Hulagodi wilayah Balkh, Transoxiana, Jata, Khawarizm, dan daerah-daerah lain yang pernah dikuasai Jenghis Khan. Ia juga berambisi menguasai Khurasan, Afghanistan, Persi, Fars, dan Kurdistan, dilanjutkan ke Irak, Syiria, dan Anatolia (Turki). Dinasti Mamluk membawa metode baru dalam sejarah politik Islam. Pemerintah dinasti ini bersifat oligarki militer. Oleh Karena itu para pemimpin militer berlomba dalam berprestasi, berjasa terhadap Negara, serta mencari simpati dinasti kecil sekitar, agar dapat diangkat menjadi sultan. Dengan demikian, maka metode ini membawa kemajuan dalam berbagai bidang. Dalam bidang pemerintahan , kemenangan terhadap Mongol di Ayn Jalut membuat daerah sekitar meminta perlindungan dan menyatakan kesetiaan, sehingga wilayah dinasti ini bertambah luas. Dinasti ini pun berhasil mempetahankan khillafah Abbasiah, setelah dihancurkan Hulago di Baghdad, dengan kairo sebagai pusatnya. Mengalahkan tentara Salib, menghancurkan kelompok Assasin di pegunungan Syria, melumpuhkan Cyrenia (tempat kekuasaan orang-orang Armenia), dan menghancurkan kapal-kapal bangsa Mongol di Anatolia. Dalam bidang ekonomi, membuka hubungan dagang dengan Perancis dan Italia, dengan Kairo sebagai jalur perdagangan antar Asia-Eropa dan Laut Merah-Laut Tengah. Disamping itu hasil pertanian juga meningkat. Keberhasilan ini diduukung oleh pembangunan jaringan transportasi dan komunikasi antar kota baik laut maupun darat, dan juga Ketangguhan Angkatan Laut dinasti Mamluk. Dalam bidang pengetahuan, Mesir menjadi tempat pelarian ilmuwan-ilmuwan asal Baghdad. Disamping itu Mesir dengan perguruan tinggi Al-Azhar serta perpustakaan Darul Hikmah yang juga selamat dari serangn bangsa Mongol menyebabkan kesinambungan ilmu zaman klasik tetap berkembang di Mesir. Mesir meenjadi pusat peradaban Islam yang berintikan kebudayaan Arab.[7]
Ilmuwan-ilmuwan besar yang lahir pada zaman Mamluk diantaranya Ibn Nafis yang digelari The Second Avisenna (Ibn Sinna Kedua) oleh pengagumnya, karena reputasinya sebagai seorang dokter yang terkemuka dan seorang penulis serba bisa pada abad VII H/XIII M. diantara murid-muridnya yang terkenal adalah Ibn al-Kuh, penulis Sebuah buku tentang ilmu bedah. Abu Hayyan al Gharnati, Nahhas seorang ahli psikologi. Ketika meninggal Ibn Nafis mewariskan rumah, kekayaan, dan buku-buku kepada rumah sakit Mansuri di Kairo. Diantara karya-karyanya yang besar adalah:[8]
1.      Kitab as-Syamil fi at-Thibb
2.      Kitab al-Muhadzdzab fi al-Kuhl
3.      Mujiz al-Qonun
4.      Komentar terhadap buku Masail fi at Thibb karya Hunain ibn Ishak
5.      Komentarnya secara lebih luas terhadap Qonunnya Ibn Sina
Dari sekian banyak karyanya itu, teorinya the lesser or pulmonary circulation of the blood tercatat sebagai prestasi paling penting dalam lapangan kedokteran. Teorinya mendahului penemuan fundamental William Harvey sehingga tidak berlebihan bila George Sarton menyebutnya sebagai ahli fisiologi terbesar pada abad pertengahan.
Ilmuwan lain pada zaman Mamluk adalah Abu Fida, seorang ahli geografi dan sejarah. Karya-karya yang pernah ia susun adalah:[9]
1.      Mukhtasir Tarikh al-Basar
2.      Takwin al-Buldan
Karya Abu Fida pernah diedit oleh J.T. Reinand dan Mac Guckin de Slane (terbit di Paris 1840 M) dan diterjemahkan kedalam bahasa Perancis oleh J.T. Reinand (Paris 1848 M). dengan karya ini Abu Fida disebut dengan The Greatest Geographer of His Age.
Ilmuwan yang setaraf dengan Ibn Taimiyah iallah Ibn Khaldun yang lahir di Tunisia 702 H/1332 M. seorang ahli Filsafat. Ia telah mengarang dan menyusun suatu “filsafat sejarah” terbesar yang pernah diciptakan manusia dari Negara atau bangsa manapun.tidak banyak buku yang dikarangnya, tetapi buku-buku  tersebut telah membukakan jalan baru bagi dunia pengetahuan dan kebudayaan. Dalam mengemukakan pikirannya, ia lebih tertuju pada permasalahan sosial. Ibn Kholdun berpendapat bahwa ilmu sejarah dan sosiologi adalah dua ilmu yang berasal sama. Mempelajari sosiologi adalah penting sebagai pengantar kepada kajian tentang sejarah. Sejarah harus diterangkan berdasarkan bukti empiris, menurut hasil observasi dan penelitian yang dilaksanakan secara obyektif. Pada tahun 1375 ia menetap di Qol’at Ibn Salamah dekat Oran selama empat tahun penuh ia menulis kitabnya Muqaddimah dan kitab Sejarah Alam Semesta. Ia menciptakan ilmu baru “ilmu sosiologi”, mungkin karena ia memiliki perjalanan hidup yang panjang dan berliku-liku.[10]
Pada abad XIV H di Spanyol timbul wabah penyakit yang disebut mati hitam (black death). Wabah ini sering dikaitkan sebagai hukuman Tuhan baik oleh pemuka Kristen maupun pemuka Islam. Disinilah dokter-dokter Islam berjuang keras menghilangkan tahayul dengan memberikan petunjuk cara memberantas penyakit berdasarkan ilmu kesehatan. Penyakit ini berjangkit keseluruh Eropa karena kotoran daki dan kurang mandi. Dari sinilah Eropa mengenal sabun. Sampai sekarang Eropa memakai bahasa arab untuk sabun (soap) yang dikirimkan rumah sakit-rumah sakit islam keberbagai negeri Eropa ketika penyakit hitam itu menular.[11]
Diantara dokter-dokter yang muncul pada waktu itu adalah Ibn al-Khatib di Granada tahun 1313-1374 M. ia mengarang buku tentang penyakit menular dan bahaya epidemic. Semenjak penyakit tersebut disebarkan penerangan How to be Health, guna menghindari penyakit menular. Dokter yang besar juga jasanya dalam wabah black death di Eropa bernama Ibn Khatima wafat tahun 1369, yang juga mengarang buku tentang penyakit menular, bahkan bukunya dipandang terbaik. Adapun penyakit menular, sebagai yang diterangkan oleh Ibn Khatima, belum ada dalam buku kedokteran Yunani, belum terdapat cara memberantas penyakit menular. Dengan demikian dapat diketahui bahwa semenjak abad pertengahan kedokteran Islam berdiri sendiri tidak lagi tergantung kepada pengobatan Yunani.[12]


[1] Badri yatim, sejarh peradaban islam dirosah islamiah II. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada. Hlm. 124.
[2] Ibid, hlm. 125
[3]  Musrifah Sunanto, sejarah islam klasik. Jakarta: kencana, 2007. Hlm. 206
[4] Ibid., hlm. 207
[5] Ibid.,
[6] Ibid., hlm. 209
[7] Ibid., hlm. 210-212
[8] Ibid., hlm. 212-214
[9] Ibid., hlm. 215
[10] Ibid.,hlm. 217-220
[11] Ibid., hlm. 220
[12] Ibid., hlm. 220-222

IMAN



       I.            Pengertian dasar Iman, Kufur, Nifak, Fasik, Syirik, Khurafat, dan Tahayul
a.       Iman
Iman secara etimologi berarti at-tashdiq yakni pembenaran. Sebagaimana dimaksud dengan kata Mukmin dalam surat Yusuf:


17.  Mereka berkata: "Wahai ayah kami, Sesungguhnya kami pergi berlomba-lomba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala; dan kamu sekali-kali tidak akan percaya kepada kami, sekalipun kami adalah orang-orang yang benar."(QS. Yusuf:17)

Ssedangkan iman secara terminology berarti pembenaran atau pengakuan hati dengan penuh yakin tanpa ragu-ragu akan segala apa yang dibawa oleh Nabi saw. Yang diketahui dengan jelas sebagai ajaran agama yang berasal dari wahyu Allah SWT.

b.      Kufur
Kufur merupakan kebalikan dari pada iman, secara etimologi berarti menutupi. Sedangkan orang yang kufur disebut kafir, yaitu orang yang menutup hatinya dari hidayah Allah SWT. Malampun dapat disebut kafir, karena malan menutupi orang dan benda-benda lain dari dengan kegelapannya.

            Menurut Syara kufur terbagi menjadi dua, yaitu:
                                                        i.            Kufur Akidah, yaitu mengingkari akan apa yang wajib diimani, seperti iman kepada Allah, Para Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Para Rasul-Nya, Hari Akhir, dan yakin dengan Qodha dan Qadar baik dan buruknya. Allah SWT berfirman:



136.  Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan kepada Kitab yang Allah turunkan kepada rasul-Nya serta Kitab yang Allah turunkan sebelumnya. barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari Kemudian, Maka Sesungguhnya orang itu Telah sesat sejauh-jauhnya. (QS. Annisa: 136)

                                                      ii.            Kufur Amaliah, yaitu tidak menyukuri yang telah Allah berikan kepadanya. Allah SWT. berfirman:
12.  Dan Sesungguhnya Telah kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), Maka Sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji".

c.       Nifak
Nifak ialah memperlihatkan sesuatu yang berlainan dengan apa yang ada di batinnya. Contoh, orang yang mengaku sebagai seorang mukmin padahal dihatinya atau Batinnya masih sebagai orang kafir.
Nifak terbagi dua:
                                                        i.            Nifak Akidah, yaitu seseorang yang beriman lahirnya saja dengan sekedar mengucap uda kalimat sahadat sedangkan hatinya tetap mengingkari ucapannya itu. Allah Swt. berfirman:

145.  Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka. (QS. Annisa: 145)

                                                      ii.            Nifak Amaliah, yaitu orang yang termasuk dalam golongan maksiat yang tidak membuat orang mukmin menjadi kafir. Sabda Rasul saw:

آية المنافق ثلاث: اذا حدث كذب واذا وعد اخلف واذا اؤتمن خان (الحديث)
“tanda-tanda orang Munafik itu ada tiga: apabila ia berkata ia dusta, apabila ia berjanji ia mengingkari, dan apabila ia dipercaya ia berkhianat” (HR. Bukhari Muslim)
  
d.      Fasik
Fasik ialah Mukmin atau orang islam secara sadar melanggar ajaran Allah swt., atau orang tersebut percaya akan adanya Allah, percaya akan kebenaran islam yang dibawa oleh nabi Muhammad Saw., tapi dalam tindakannya mereka mengingkari terhadap Allah dan hukuman-Nya, selalu berbuat kerusakan dan kemaksiatan. Allah swt berfirman:


27.(yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi mereka Itulah orang-orang yang rugi.(QS.Al-Baqarah: 27)

e.       Syirik
Syirik yaitu mempersekutukan Allah swt. Dengan sesuatu yang lain. Syirik berarti mempercayai kekuatan yang besar selain dari Allah swt. Islam sangat menentang kepercayaan yang merusak kemurnian akidah, karena substansi atau isi kepercayaan telah terasa dengan yang lain/tercampur. Allah swt menegaskan dalam Al-Quran bahwa syirik merupakan dosa yang besar, sehingga orang yang menyekutukan-Nya tidak akan diampuni dosanya.

13.  Dan (Ingatlah) ketika Luqman Berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".(QS. Luqman: 13)

Syirik terbagi menjadi 2, yaitu:
                                                        i.         Syirik jali, yaitu suatu tindakan mendualismekan kekuasaan, kekuatan atau kemudharatan kepada selain Allah Swt. Contoh, orang-orang yang memercayai mitos-mitos, tahayul, khurafat, dll.
                                                      ii.            Syirik khofi, yaitu munculnya kekuatan diri merasa besar, agung, terhormat, sehingga kebesar kebesaran Allah swt. Menjadi terabaikan/terlupakan. Contoh: ria, takabur, dll

f.       Khurafat
Khurafat secara etimologi (dalam kamus munawir) ialah hal yang berkenaan dengan kepercayaan yang tidak masuk akal, selain itu khurafat dalam islam ialah semua cerita sama ada rekaan atau khayalan, ajaran-ajaran, pantang-larang, adat istiadat, ramalan-ramalan, pemujaan atau kepercayaan yang menyimpang dari ajaran islam.
Berdasarkan pengertian diatas, khurafat mencakup cerita dan perbuatan yang direka-reka merupakan satu bentuk khurafat.

g.      Tahayul
Tahayul secara etimologi berasal dari kata khoyal yang berarti: apa yang tergambar pada seseorang mengenai suatu hal, baik dalam keadaan sadar ataupun bermimpi. Tahayul terbagi dua:
                                                        i.           Kekuatan ingatan yang terbentuk berdasarkan gambar indrawi dengan segala jenisnya, seperti pandangan, pendenganran, penciuman, dll.
                                                      ii.           Kekuatan ingatan lainnyayang disandarkan pada gambar inderawi, kemudian dari satu unsur menjadi sebuah gambar yang baru. Gambar baru tersebut bisa jadi satu hal yang benar-benar terjadi atau yang diluar kebiasaan (kemustahilan). Seperti kisah seribu satu malam, nyi roro kidul, dan cerita khurafat lainnya. Tahayul diartikan juga: percaya pada sesuau yang tidak benar(mustahil), tahayul merupakan bagian dari khurafat.
Firman Allah swt:


3.  Ingatlah, Hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya". Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.(QS. Az-Zumar: 3)